Hati Layaknya Arus
by : nasuhatin
Tidak salah jika kita menyebut setiap aktivitas kita yang tertuang diiringi keringat dan kelelahan dalam wajihah ini sebagai sebuah “ Perjuangan” . Tidak ada yang melarang jika tiap rengkuhan erat tangan yang terulur antara sesama aktivis ternamakan dengan “ Ukhuwah” tidak akan dicemo’oh tiap binar mata yang terekspresi dan senyum yang mengembang begitu manis saling beradu ketika bertemu kita juluki” mahabbah “ karena hati itu kita yang punya, yang menahkodahi tiap perjuangan, bentuk ukhuwah dan ekspresi cinta kita.
Mungkin hati bak arus sungai yang terus mengalir, melewati celah bebatuan, ada yang mendapat jalan lapang tanpa perlu menyusup dalam keropos batu namun ada juga yang harus berhenti sejenak tersumbat bebatu besar yang sedikit demi sedikit membuka celahnya karena gigih arus menghantam.
Namun arus itu tidak selamanya terbebas dati singgah sampa dan kotoran. Yang acap kali menebar keruh dan bau menyengat serta pemandangan yang meninggalkan kesan tidak indah.dan arus itulah yang harus pandai mengolahnya ditanganya akan terjadi dua hal kembali kepada keadaan semula sungai yang arusnya mengalirkan air jernih atau sungai yang arusnya terhenti dengan sumbatan sampah dan kotoran.
Dan hati tak jauh seperti arus, jika seiring waktu ia mampu menjaga kebeningan niat dan ketulusan hasrat tanpa terkontaminasi segala puji ataupun poluarutas yang kerap kali menyinggahibahkan kemunafikan yang terbungkus rapi maka perjuangan itu tidak akan mengalami stagnasi, ukhuwah itu tidak sekedar koar dan lipstick belaka, dan mahabbah itu tak hanya sekedar tuntutan yang hanya menyesakkan dada.
Dan pemilik arus itu adalah kita, yang tiada henti menerjang, menyusup dan mengalirkan tiap kebaikan kesetiap kanal yang ada bahkan mampu menciptakan aliran-aliran baru dengan terhempasnya batu besar yang sering kali menghalangi.Arus itu adalah kita yang dengan serta merta menyingkirkan dan membuang jauh segala hal yang mendatangkan kerusakan dari sampah pemikiran hingga paradigma yang hanya akan mengungkung kita serta memebelenggu orang lain.
by : nasuhatin
Tidak salah jika kita menyebut setiap aktivitas kita yang tertuang diiringi keringat dan kelelahan dalam wajihah ini sebagai sebuah “ Perjuangan” . Tidak ada yang melarang jika tiap rengkuhan erat tangan yang terulur antara sesama aktivis ternamakan dengan “ Ukhuwah” tidak akan dicemo’oh tiap binar mata yang terekspresi dan senyum yang mengembang begitu manis saling beradu ketika bertemu kita juluki” mahabbah “ karena hati itu kita yang punya, yang menahkodahi tiap perjuangan, bentuk ukhuwah dan ekspresi cinta kita.
Mungkin hati bak arus sungai yang terus mengalir, melewati celah bebatuan, ada yang mendapat jalan lapang tanpa perlu menyusup dalam keropos batu namun ada juga yang harus berhenti sejenak tersumbat bebatu besar yang sedikit demi sedikit membuka celahnya karena gigih arus menghantam.
Namun arus itu tidak selamanya terbebas dati singgah sampa dan kotoran. Yang acap kali menebar keruh dan bau menyengat serta pemandangan yang meninggalkan kesan tidak indah.dan arus itulah yang harus pandai mengolahnya ditanganya akan terjadi dua hal kembali kepada keadaan semula sungai yang arusnya mengalirkan air jernih atau sungai yang arusnya terhenti dengan sumbatan sampah dan kotoran.
Dan hati tak jauh seperti arus, jika seiring waktu ia mampu menjaga kebeningan niat dan ketulusan hasrat tanpa terkontaminasi segala puji ataupun poluarutas yang kerap kali menyinggahibahkan kemunafikan yang terbungkus rapi maka perjuangan itu tidak akan mengalami stagnasi, ukhuwah itu tidak sekedar koar dan lipstick belaka, dan mahabbah itu tak hanya sekedar tuntutan yang hanya menyesakkan dada.
Dan pemilik arus itu adalah kita, yang tiada henti menerjang, menyusup dan mengalirkan tiap kebaikan kesetiap kanal yang ada bahkan mampu menciptakan aliran-aliran baru dengan terhempasnya batu besar yang sering kali menghalangi.Arus itu adalah kita yang dengan serta merta menyingkirkan dan membuang jauh segala hal yang mendatangkan kerusakan dari sampah pemikiran hingga paradigma yang hanya akan mengungkung kita serta memebelenggu orang lain.